Minggu, 29 Maret 2009

Cintaku Berlabuh di Hatimu

setiap malam datang aku mengimpikanmu
setiap hari menjelang aku selalu mengingatmu
ada bintang di langit dan bulan yang bersinar
aku memandang jauh kesana kasihku telah kudapat
kudapat, dan malam tak lagi penat
aku bisa melihatmu disini bersamaku
kegunggam jemarimu
angin malam dan malam sahdu
membuai ditengah rindu
kudekap jantungku didadamu
cintaku berlabuh dihatimu

Maret 1988

Pulang Malam

malam dingin
jalanan sepi lurus dan sunyi
hujan turun dan berganti angin
dan langit tiada berbintang

masih jaukah aku berjalan
ataukah tujuanku sudah sampai
namun tempatku jauh disana
sejauh mataku memandang
belumlah sampai langkahku berhenti

hanya derap sepatuku
menendang kerikil tak berarti
dan semakin samar
tempatku pun belumlah sampai

pulang malam
pulang malam lagi
ya ... pulang malam
kapankah ini berhenti
tempatku masih jauh
tujuanku belum sampai
cita-cita belum tergapai
karena usaha belum selesai


Maret 1988

Melati

Seharum melati
kuselipkan dalam jemari
Wangi bunga yang putih
kuberikan buat kekasih

Waktu ketika pagi
Melati segar berseri
Di taman indah berperi
Ia tumbuh disinari mentari

Sekuntum bunga melati
Cinta menjadi dihati
Lambang cinta kini
Ditapal batas kembali

Setangkai melati
Kupetik bunga yang mekar
Kuberikan buat kekasih
Menghiasi wajah sang pacar

Indah melati
Harum melati
Putih melati
Menawan dihati

Februari 1988

Sesaat Perpisahan Tiba

Saat perpisahan tiba
kupandang sendu wajahmu
ada tangis dan air mata

Terakhir kali
dirimu berdiri didepanku
bibir kita bergerak
ingin kata perpisahan
......dan tidak ada yang bisa
ketika hanyak dalam kesenduan

Akhirnya tiba
buat penghabisan kali kukecup jarimu
buat terakhir kali kuusap air matamu
Kukecup merah bibirmu
terakhir kali kudapati dirimu
perlahan-lahan diantara kita ada jarak
akhirnya mengambang jua
tinggalah deru mesin mengudara
awan putih berkabut ditiup angin senja

Januari 1988

Penyesalan

Kupergi
entah kemana
Kupergi
tak tahu arah
Kutakut
dosa mengejar
Diburu
bayang-bayang
Kusalah
kata yang kuucap
Kulari
menebus dosa

Januari 1988

Cemara dan Cinta

Cemara berderai ditiup angin
Ketika hari menjadi senja
Malam kelam berselimut dingin
Terasa dirimu ingin dimanja

Daun cemara berterbangan
Ranting cemara berdesihan
Cemara bersandar menahan angin
Cemara berjajar di jalan dingin

Menyelimuti diriku - sendiri
Menyelimuti kalbu yang sepi
Menyelimuti hati
Mencari cintaku kini pergi

Aku bisa tahan
Daripada masa yang lalu
Tapi Dulu bukannya zama
Pada waktu yang berlalu

Benarkah hidup hanya menunda waktu
Karena jauh dari cinta
Penyesalan tiada reda
Bisakah hidup begitu

Daripada diri amuk o amuk
Akhirnya merana
Kuingin terus berpeluk
Biar cinta datang cemara

Kutahu indahnya cemara
Kutahu pahitnya duka
Kutahu perihnya luka
Tapi .....
Ku tak tahu cinta


Januari 1988

Burung-Burung Impian

Berterbangan
Burung-burung impian
Keluar dari waktu pergantian
Dan bersahut-sahutan
Di depan awan

Menari diatas puing-puing alam
Menari meninggalkan masa lalu
Terbang menuju dunia keindahan
Menyambut dunia berkilau

Burung-burung yang indah
Menarilah, bersuka ria
Melupakan hempasan kala
Menuju matahari bersinar
Di balik awan

Burung-burung impian
Melayang-layang dari kejauhan
Terbang meninggi berkilauan
Yang tak akan pernah suram

Januari 1988

Di Tepi Pantai

Di tepi pantai
air biru berdesir
indahnya alam ini
dan air mengalir
dari puncak bukit yang tinggi
ketika matahari di ufuk timur
bersinar kembali

Kunyanyikan sebuah lagu
dan kulantunkan sebuah syair
mengiringi awan di langit biru
dan ombak yang berdesir

Kududuk di tepi pantai
kupandangkan mataku
ke laut nan biru
jauh mengawan
hilang pandangan
dalam ketenangan
hati yang damai

Oh, indahnya alam
bagai mahkota di bawah langit biru

Bogor, November 1987


Melangkah Membawa Luka

Melangkah
Selangkah
Terhuyun
Terayun
Setapak-setapak sudah
Berat mengayun

Melangkah lagi
Bangun kembali
Jatuh berkali
Bangkit kembali

Menahan sakit
Perih dan ngeri
Luka-luka ini
Menembus tulang dan kulit

Berjalan lagi
Setapak selangkah
Sakit kian menjadi
Membawa pedih dan perih

Tak tahan lagi
Merasakan begini
Peluru di diri
Dan kapan berhenti


Bogor, November 1987

Tinggal Bayang-Bayang

Waktu kau masih disisiku
matahari masih bersinar dihatiku
tiada hari tanpa keindahan

Kini semua telah tiada
kau pergi dan kau sendiri
kebahagiaan tiada lagi
hati tercabik dan sepi

Ada sinar kebahagiaan yang tiada arti
bila dibandingkan dengan dirimu
kali ini hatiku luruh, lusuh

Kebahagiaan itu telah berlalu
bersama perginya waktu
kau hilang dariku
lalu aku berseru

"Masa indah itu telah berlalu bersama dirimu,
kini tinggal bayang-bayang"

Bogor, Oktober 1987




Entah

ada setitik embun,
entah dari mana asalnya
ada setitik air,
entah kemana jatuhnya
ada sebuah huruf,
entah bagaimana bunyinya
ada sebaris kalimat,
entah apa katanya

Bogor, September 1987


Dia Pergi Malam

Dia pergi malam ketika hujan turun,
petir menggelegar dan menderu awan
dan tidak kembali-kembali lagi.

Dia pergi malam ketika ibunya tidur,
mengaduh sakit ibunya itu
dan tidak dihiraukannya lagi.

Dia pergi malam hilang dari pandangan,
sedih ibunya tidak diingatkan
meskipun dia tahu jadi harapan.

Dia pergi malam hilang dari kejauhan,
pada ibunya tidak berpamitan
karena dia takut tidak dikabulkan.

Dia pergi malam tidak pulang-pulang lagi,
ibunya sedih tidak bertepian
anaknya itu dia doakan.

Dia pergi malam tidak kembali-kembali lagi,
hati ibunya tidak bertujuan
karena dia tahu dia sendirian.

Bogor, Maret 1987

Tuhanku

Tuhanku
Engkau ciptakan manusia,
diatas segala-galanya ciptaan-Mu
Engkau ciptakan semua keadaan,
hanyalah untuk manusia
Biarkanlah aku berlindung dibawah lindungan-Mu
Dibawah pancaran sinar-Mu
Sampai diriku kembali pada-Mu

Februari 1987


Minggu, 15 Maret 2009

Kepada-Mu

Bibirku bergetar mengucap nama-Mu,
jari-jari tanganku menghitung banyaknya nama-Mu kusebut,
sementara hatiku terasa pilu, dan diriku merasa malu menghadap keagungan-Mu.
Ya Rabbi, betapa banyak dosa dan kesalahan
yang telah aku buat, betapa banyak kemunkaran
dan maksiat yang aku kerjakan.

Hamba-Mu memohon ampunan dan taubat kehadapan-Mu, ya Rabbi.
Tiada tempat lain bagiku untuk meminta, dan tiada tempat lain
untukku berpaling, hanya kepada-Mu lah aku serahkan diriku,
hanya kepada-Mu lah aku serahkan perbuatanku.
Bibirku terus mengucap nama-Mu ya Rabbi, memohon ampunan yang akan
Engkau berikan.

Ya Rabbi, tabahkanlah hati hamba-Mu,
Besarkanlah jiwa yang tengah gundah,
dan kuatkan iman yang tengah bimbang.
Ya Rabbi, hanya pada-Mu, aku memanjat pengaduan,
tidak ada tempat bagiku untuk mengadu, hanya kepada Mu
aku meminta, maka lindungilah aku ya Tuhan-ku.

Biarkan bibirku menyebut nama-Mu
Biarkan jari-jariku menghitung banyaknya nama-Mu disebut
Biarkanlah semua itu menjadi pendekat diriku pada-Mu
Karena aku merindukan keagungan-Mu, ya Rabbi.



Sandi Suwardi
Jakarta, 30 Agustus 2006

Matahari Terbit Di Timur

Matahari Terbit Di Timur.
Itulah judul puisi dan catatanku. Sebuah judul penuh makna, sebuah judul penuh tanya.
Lalu kenapakah aku memilih judul itu? Apa yang terlintas dalam pikiranku?
Bukankah Tuhan telah menciptakan alam semesta dan seisinya?
Tuhan telah menciptakan manusia untuk menyembah dan sujud kepada Ilahi.
Tuhan menciptakan bumi sebagai tempat tinggal manusia berikut semua isinya.
Tuhan menciptakan langit dan isinya untuk menunjukan kebesaran dan keagungan-nya.
Kebesaran tanpa batas, keagungan tanpa tandingan dan kekuatan tanpa lawan.
Dan Tuhan menciptakan bintang-bintang dan matahari. Adakah dengan semua itu manusia bersikap angkuh?
Dan adakah dengan semua itu manusia tidak mengingat kebesaran sang khalik?
Tuhan telah menciptakan langit dan seisinya sebagai pertanda.
Manusia, bumi, matahari, langit dan seisinya adalah makhluk ciptaan Ilahi. Tidak ada satupun kekuatan selain kekuatan sang Ilahi. Dan Tuhan telah menciptakan sistem yang sempurna.
Manusia memiliki siklus kehidupan yang mesti dilalui. Manusia memiliki takdir yang mesti dijalani, dan tantangan kehidupan yang mesti dihadapi.
Bumi berputar pada porosnya dan mengeliligi matahari dengan pasti. Satu sistem yang pasti dalam kehidupan alam semesta. Dan Tuhan telah menunjukan kebesaran-Nya agar manusia ingat dan iman kepada-Nya.
Adakah kita saksikan satu hari dalam kehidupan umat manusia bahwa matahari terbit dari barat?
Tuhan telah menentukan bahwa matahari terbit dari timur.
Mengapakah Tuhan menentukan demikian? Hanya Ilahi yang tahu jawabnya dan manusia wajib bersyukur dan bersujud kepada sang Khalik.
Dan tidak pernah satu haripun dalam kehidupan manusia matahari terbit bukan dari timur.
Sesuatu yang pasti dan sesuatu yang sang khalik telah tentukan. Dan selama itu manusia menjalani siklus kehidupannya.
Manakala matahari terbit dari barat dan bukan dari timur, masihkan manusia dapat menjalani siklus kehidupannya?
Matahari terbit di Timur.
Sebuah tanda bahwa manusia mesti bersyukur, sebuah tanda kebesaran-Nya. Dan mengapakah manusia lalai untuk sujud dan mengingat-Nya? Adakah yang mampu merubah arah terbitnya matahari?
Jika tidak mengapakah manusia harus menganiaya dirinya sendiri dengan mengagungkan zat selain Ilahi?
Mengapakah manusia berpaling kepada selain-Nya?
Bukankah telah jelas dan nyata bahwa manusia diciptakan untuk bersujud kepada Tuhan, mengingat dan mengagungkan Ilahi, dan menyerahkan diri kepada pertolongan-Nya.
Tidakkah manusia sadar jika Tuhan telah menunjukkan kebesarannya.
Matahari terbit di timur. Dan selalu akan seperti itu selama kehidupan manusia.

Bogor, 15 Maret 2009