Minggu, 10 Januari 2010

Mirabela

Kenang Mirabela
Ingat!
Saat hujan turun tak hentinya, dan kau berlari kecil
Berseri, gembira, basah
Dibawah rintihan
Kenang Mirabela
Hujan tak hentinya waktu itu
Dan aku berpapasan denganmu
Kau tersenyum
Ingat Mirabela
Kita yang tidak saling mengenal
Dan tak pernah saling bertemu
Tapi waktu itu...bagai lama kita berpisah
Ingat!
Bagaimanapun ingatlah saat itu
Tak bisa dilupakan, bukan
Seorang lelaki asing dekat istana
Dan ia memanggil namamu
Mirabela
Kau lari kearahnya seiring hujan mengguyur
Basah, girang, gembira
Dan kau dekapkan dirimu ke tubuhnya
Ingatkah itu Mirabela
Dan aku berdiri dibawah hujan
Dan semua tak peduli padaku
Dan kau sedikitpun tak mengasihaniku
Dan hujan tak henti-hentinya di kota itu
Jangan marah jika kusebut namamu sekarang
Kusebut kau pada semua yang kucinta
Kusebut kau pada setiap wanita
Kusebut kau pada bulan dan bintang
Meskipun mereka tiada kukenal
Walau baru sekali kulihat dalam hidup
Ingat Mirabela
Jangan lupakan!
Hujan saat itu tak mau berhenti
Wajahmu gembira dan berseri
Tapi hari itu kota itu bagai mati
Aku terkurung seribu rasa
Dan kalian merdeka dalam seratus kata
Semua sunyi
Semua sepi
Dan kota itu bagai mati
Diseberang sana lautan pun tak berarti
Kalian pergi dan berpaling
Dan pergi meninggalkan sunyi
Aku berdiri dari kejauhan yang sangat jauh
Ketika pada akhirnya dirimu hilang
Ingatlah Mirabela
Diantara kita tiada tersisa apapun
Hanya tinggal setitik kenangan yang terlupakan
Karena kita tak pernah berlanjut

written on November 1989

Sajak Terakhir

setiap hari kau kumimpikan
begitu sering kau datang, begitu rupa pikiran
sangat kucintai bayang-bayangmu
hingga dirimu bagiku tiada lagi tersisa
tinggalah bayang-bayang jadi terbayang
seribu kali bayang dari kenang-kenangan
jadi bayang dan kenangan datang yang datang
berulang-ulang
dalam dirimu yang bercahaya mentari dan rembulan

written in November 1989

Lamunan Untuk Musim Hujan

musim hujan, kita naik kelambu biru muda
dengan bantal-bantal putih
kita bakal senang, sekuntum cium asmara
dihampir lekuk yang lirih

kau memejamkan mata agar tiada bayang melintas
mengintip burung yang melintas
jangan takut setan hitam dan berpentas
yang jahat dan memeras

kau memejamkan mata agar tiada lintas cahaya
menyentuh bibir-bibir halus
tiap menit datang lantera
ditiup sudut gelora yang mulus

lalu pipimu terasa tercercah
sekejut cium bagai bulan berbelah
menjelajahi bintang yang terjauh

kau bilang : "Temukan!", sambil berpaling
kita butuh waktu untuk menemukan bintang
yang pergi jauh tak kembali

written in November 1989

Kemerdekaan

Di buku-buku sekolah
Pada pohon dan bangku
Di atas pasir dan batu
Dimana ada namamu

Pada halaman semua berita
Pada halaman segala cerita
Batu, kertas, darah, daging dan senjata
Dimana ada namamu

Di gambar-gambar kemenangan
Pada senjata para pahlawan
Di mahkota para ksatria perjuangan
Dimana ada namamu

Di hutan rimba dan gurun
Di sarang dan pohon rimbun
Dalam masa dan kurun
Dimana ada namamu

Pada keindahan-keindahan malam
Bentangan hari merajut nilam
Atas musim-musim terbenam
Dimana ada namamu

Atas kain-kain biru terbentang
Saat pesawat lagi terbang
Pada teriakan pahlawan dan pejuang
Dimana ada namamu

Di padang-padang dan kaki langit
Di atas gunung dan bukit-bukit
Dan teriakan para prajurit
Dimana ada namamu

Pada tiap detik nafasku
Di laut, kapal dan perahu
Di gunung-gunung nan biru
Dimana ada namamu

Dalam buih-buih ombak
Pada laut-laut biru
Pada sungai-sungai beriak
Dimana ada namamu

Di bangunan kokoh dan tinggi
Pada lonceng-lonceng berdentang
Disaat malam dan siang
Dimana ada namamu

Di jalan-jalan yang lebar
Di taman berbunga yang mekar
Di lapangan yang bertugu
Dimana ada namamu

Pada dian yang menyala
Pada nilam yang padam
Di rumah-rumah berlantera
Dimana ada namamu

Karena sejarah berada
Dari cermin dan realita
Atas rajutan tinta dan pena biru
Kutulis namamu

Pada gadisku yang lembut dan malu
Pada cintanya sekarang dan dulu
Pada manisnya bunga yang bermadu
Kutulis namamu

Dari album-album lamaku
Atas pintu-pintu rumahku
Dalam alun-alun apiku
Kutulis namamu

Atas segala daging temanku
Karena darah temanku
Pada sejarah bangsaku
Kutulis namamu

Atas kaca cermin dan cerita
Atas bibir penuh cinta
Jauh melambung gelora
Kutulis namamu

Atas perlindungan yang kukuh
Mercusuarku yang tak pernah rubuh
Dari orang-orang yang tidak mengeluh
Kutulis namamu

Pada cinta tiada hasrat
Pada kesunyian yang melarat
Pada langkah-langkah keparat
Kutulis namamu

Karena zikir dan ingatan pada akhirat
Karena manusia yang bersalawat
Karena mengharap tiada terjerat
Kutulis namamu

Dengan kekuatan sepatah kata
Kumulai semua harimu
Kulahir untuk melihatmu
Dan memberimu nama

Kemerdekaan!!!

written in November 1989

Sabtu, 09 Januari 2010

Hotel

kamar hotel adalah cinta, begitu katamu
menunggu jodoh tiba
dan aku baru melihat orang datang malam-malam
berjalan diam-diam
ketika pelayan datang membawa makan
dan dia masuk sungkan-sungkan
kuputar badan berpaling
dia tertawa terpingkal-pingkal
hiruk pikuk orang di tempat
punya rasa berbeda adat
merokok setiap hari
bau asap orang tak mandi
hai orang-orang bahagia
yang bernyanyi dan ketawa
yang bertiga dan berdua
jangan lupa ada dosa
semua yang mendengar
bersama menginap di hotel ini
mari kita ketawa di kamar
biar tak ada hiruk disini
mari berjanji tutupkan pintu
biar tak ada yang tahu
dan masing-masing sembunyi
cinta kita sendiri-sendiri

written on November 1989

Antara Engkau dan Aku

tengah berbaringkah engkau?
kulepas panah hati dalam kegelapan malam
kutunggu dirimu dalam kelam
kuingat dirimu sendirian
hatiku bagai api, bergelora dan membara
sementara malam mengitariku
kudengar semua kata tanpa kecuali
kupandang bulan dan bintang menghiasi langit hitam
aku jalan bagai maling ditengah malam
aku lari bagai dikejar anjing
aku bergegas datanglah dirimu kepadaku
malam sekarang sunyi ngeri
bulan akan marah padaku, pikirku
kubaka mata
tidak kututup mata
kupanggil namamu
aku ingin dirimu
kupanggil namamu
kupanggil namamu
akankah kau datang sekarang
datanglah malam ini
malam ini malam ini malam ini
malam ini
aku tidak tidur
aku tunggu kau sampai datang
kupanggil namamu

written on November 1989

Obsesi

Inilah kembang mawar dan melati
Yang tumbuh di taman bersari
Ada sesuatu ketika murung menerpa hati
Antara kasih dan benci

Disana ada bayang-bayang
Terpancar dibalik kegelapan malam
Matahari membuatnya suram
Entah kemana dia terbang

written on November 1989

Jam Malam

Apa mau dikata...
malam begitu gelap
Apa mau dikata...
kamar-kamar begitu pengap
Apa mau dikata...
rakyat meratap
Apa mau dikata...
semua dijaga ketat
Apa mau dikata...
semua terkurung rapat
Apa mau dikata...
jalanan dijaga aparat
Apa mau dikata...
kota kedinginan
Apa mau dikata...
warga kota kelaparan
Apa mau dikata...
anak-anak bertangisan
Apa mau dikata...
malam kembali tiba
Dan apa mau dikata...
Kita bercinta kembali

written in November 1989

Ke Rumahmu

Hari Minggu...
Aku ke rumahmu...
Kurasakan kehidupan hari itu
Pohon-pohon hijau berjejer disisi jalan
Bunga-bunga tumbuh mekar di taman,
memancarkan keindahan
Aku memasuki halaman, menatap rumpu nan hijau, bunga yang ranum,
dan daun pintu rumahmu
Kuketuk pintu dengan perlahan
Seorang wanita tua berdiri
"Oh...engaku! Masuklah!, katanya padaku
Dia memang sudah mengenalku
"Sebentar kupanggilkan kekasihmu", katanya lagi
Dan tak lama kemudian...
Engkau berdiri dihadapanku
Matamu yang indah menatapku
Rambutmu terurai setinggi pundak
Masih kuingat betul kenangan pagi itu
Senyummu membuatku gila
membuatku jatuh cinta
Ingatkah, setiap kali kita bertemu
Selalu ada cium darimu
Dan kita saling merangkul
Engkau sungguh cantik dan membuatku mabuk
Entah kenapa dan bagaimana
Tatapanmu selalu menggoda setiap jengkal dari tubuhku
dan engkau adalah milikku

written on Juli 30, 1989

Masihkah

Masihkah ada kasih dihatimu....
untuk apa kau teruskan, jika dalam hatimu pintu tertutup rapat,
bungkam dan diam....
Jangan kau lanjutkan,
karena akan membawa mata hatimu tak kan bisa memandang lagi
Masihkah kau inginkan kasih,
walau angin sudah menyapu,
walau badai telah menerpa,
hingga beterbangan bagai daun yang lepas dari ranting,
dan tak bisa kembali....
tak kan bisa kembali....
hilang....hilang entah kemana
Masihkah tersisa rasa
dalam lubuk hati yang dalam
untuk bisa memberi kasih dan rasa
untuk bisa mendapat ....
Masihkah ada setitik cinta dihatimu...

written on April 30, 1989