Aku berdiri diantara dua bukit
Satu kakiku menginjak tanah berlumpur pada pinggiran bukit yang curam
Satu kakiku menapak pada tanah tandus bercadas pada sisi sebuah bukit yang landai
Dan jubahku berkelebat ditiup angin barat
Sementara mataku nanar menatap jurang yang dalam
Aku berdiri diantara dua bukit
Naluriku mendorong untuk berpindah ke sisi kiri dan mengayunkan kaki kananku ke tanah berlumpur
Tetapi, logikaku berkata lain. Berpindah ke kanan dan menapakan kedua kakiku pada tanah tandus bercadas adalah pilihan yang tepat
Maka, aku berdiri diantara dua pilihan. Dan pilihan manakah yang harus kuambil?
Angin terus menerpa tubuhku. Ujung jubahku berkelebat ditiup angin, menyentuh sisi-sisi kedua tebing
Kedua kakiku menginjak kokoh pada dua sisinya
Batinku bergejolak menentukan pilihan dan mengatasi dilema
Maka, kepada Tuhanku lah aku bertanya
Aku berdoa dan berharap Tuhan akan membisikan sesuatu ke dalam hatiku
Mataku memandang ke bawah. Kerikil-kerikil dan batu-batu berjatuhan dari sisi atas kedua tebing
Lalu aku memandang ke atas. Sekumpulan awan putih yang bergerak pelan tidak mampu menutupi teriknya panas sinar matahari
Aku berharap, berdoa dan iringan tasbih, tahlil dan takbir mengiringi tetesan keringat yang jatuh dari wajahku
Akankah Tuhanku mempedulikanku, hambanya yang dipenuhi dosa dan noda hitam?
Aku ketakutan
Jatuh terjerembab ke dalam jurang yang dalam adalah mengerikan. Dan mati karenanya adalah jauh lebih mengerikan
Maka, kepada Tuhanku lah aku mohon pengampunan
Aku belum siap memindahkan kakiku yang manapun ke sisi lain bukit
Maka, kepada Tuhanku lah aku mohon pertolongan
Ya Rabb tolonglah aku. Maka, kukumpulkan semua kekuatan yang ada pada tubuhku
Dengan iringan basmallah aku mengeluarkan keberanian
Sebuah keberanian untuk mengambil resiko
Resiko yang paling dalam dan besar sekalipun
Resiko untuk mendapatkan kegagalan
Karena aku tidak pernah tahu kapan keberhasilan itu datang, dan kapan keberuntungan itu menyertai
Akupun tidak tahu kapan kematian itu menghampiri
Maka, kepada Tuhanku lah aku berserah diri
Jakarta, 28 Juli 2009
Jumat, 31 Juli 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar